opini, reviews

About Time – a complete love movie

Another romantic movie by Rachel McAdams, About Time. But what make it different is, it is a complete love movie. The plot was simple, though it is subtle about many love stories; love to your spouse, to siblings, to parents, to children, to friends; yet still keeping its simplicity.


Unlike hollywood movies, who always exaggerate about loves and deaths, it shows that life in general is meaningful with every its bittersweet moments. It is a beautiful and heartwarming movie πŸ™‚

opini, Works

Musim Pelaporan Pajak

Bulan April sudah hampir habis, periode sibuk2nya LHDN (dinas pajak Malaysia). Semua sambungan telepon LHDN cabang manapun sibuk terus dari jam 8 pagi sampai 5 sore. Ini tahun pertama saya melaporkan pajak di negara selain Indonesia. Rasanya, seneng gak pake ribet plus gak pake misuh2 (ngomel2 dalam bahasa jawa-red). Mudah2an seterusnya juga seneng kaya gini πŸ™‚ Sejak tahun 2007, NPWP saya sudah aktif, yg artinya saya wajib melaporkan pajak di Indonesia sejak 2008. Kalau di Indonesia, batas pelaporannya sampai akhir Maret tahun berikutnya. Setiap form 1721-A1 dibagiin dari kantor, rasanya cuman bisa misuh2 pas ngeliat angka pajak yg dibayarkan. Angkanya gak seberapaΒ sih dibandingin banyak orang, tapi perasaan gak rela ‘menyumbangkan’ hasil kerja keras dimarahin boss/client selama setahun buat disalahgunakan oleh siapapun pihak yg bisa menyelewengkan uang pajak 😦 Jalan tetep rusak, public transport tetep jelek, kesehatan tetep dikuasain mafia, sekolah tetep mahal, dst dst dst.

Diambil dari http://rumuslengkap.com/excel-logika/cara-menghitung-pajak-pph-21-dengan-excel/
Bracket dan PTKP di Indonesia

Bosen ah misuh2 terus soal uang pajak πŸ˜€ Pada dasarnya lapor pajak di Indonesia dan Malaysia mirip banget, yg beda adalah komponen2 pelaporannya. Mirip dari sama2 punya no E-FIN (ID) atau PIN E-Filing (MY), sama2 isi online yg namanya mirip juga (E-Filing), dan sama2 terima form 1721-A1 (ID) atau EA Form (MY). Sekarang bedanya (yg bikin ngenes):

  • PTKP di ID max 30-an juta untuk K/3, sedangkan di MY 36ribuan ringgit atau sekitar 130-an juta
  • Komponen pengurangan pajak di ID dan MY pada dasarnya mirip2, dari mulai jamsostek atau EPF, jumlah tanggungan. Tapi, tanggungan yg diakui oleh kerajaan MY including orang tua dan saudara kandung, gak cuman spouse dan anak. Beli majalah/buku/komputer/alat olahraga juga bisa ngurangin pajak dengan harga maksimal yg masing2 beda2. Tapi kan tetep aja, ngurangin pajak judulnya. Eh maap, jadi misuh2 lagi. Bahkan ya sampai tahun 2014, cicilan KPR juga bisa ngurangin pajak. Hiks.
  • Pengembalian pajak. Setelah ribet2 ngumpulin kuitansi pembelian2 pengurangan pajak ini tentu aja kelebihan pajak dikembalikan ke wajib pajak. Ngembaliinnya juga gak pake lama, gak pake ribet, gak pake harus ketemu mas2/bapak2/ibu2/mbak2 petugas pajak *susah cyiin ngomongnya harus Bahasa Melayu*. Ini yg sama sekali gak pernah saya rasain di ID. Hiks. Perih, perih….#eh
Diambil dari http://savemoney.my/personal-income-tax-malaysia-2014
Perkiraan pajak status single di MY tahun 2014

Kira2 sih itu perbedaan yg buat saya pribadi adalah perbedaan yg significant. Informasi soal pajak di MY bisa dicari di google, banyak banget source2nya dan penjelasannya gamblang dan mudah, contohnya di booklet dari PWC ini. Informasi pajak ID bisa dicari di google juga sih, tapi saya masih sering gagal paham 😦 Ato mungkin saya yg sudah malas cari tau :p << jangan diikutin :p

opini

Kalo Gede Mau Jadi Apa?

Saya bukan yg ditanya lagi *ya iyalah udah tua gini*, tapi jadi yg sering nanya πŸ™‚

Mungkin temen2 seangkatan saya inget waktu kecil, pilihan jawabannya adalah seputaran: dokter, insinyur, astronot, pilot. Jangankan pas kecil, udah gede pas kuliah aja wawasan mengenai karir juga masih terbatas :p

Food Supply under Military Escort from http://viewsofthefamine.wordpress.com/
Food Supply under Military Escort from http://viewsofthefamine.wordpress.com/

Sebelum Pak JKW jadi terkenal banget, saya sebagai pecinta program macam ‘Doomsday Conspiracy’, beranggapan bahwa one day, food would be more valuable than oil. Jadi, kemandirian pangan harus dimulai dari sekarang. Sebelum Pak JKW jadi presiden, saya pikir saya harus usaha sendiri. Karena ketika pikiran ini muncul, keyakinan saya terhadap pikiran ‘government will take a good care all of us’ seperti keyakinan yg tak akan pernah kunjung terjadi.

Tapi, setelah saya mendengar program2 menteri2 baru, saya yakin program2 ini executable. Karena baru kali ini, saya mendengar sebuah rencana pemerintahan yg cukup practical, gak cuman wacana2 besar tanpa detail planning yg jelas. Banyak dari program2 ini yg menggunakan dasar pikiran jangan sampe kita jadi ‘ayam mati di lumbung padi’. Kalau program2 ini bisa berjalan dengan lancar atau bisa mencapai lebih dari 50% dari rencana (gak mau muluk2 :p), saya yakin keadaan akan jauh lebih baik πŸ™‚

Port of Rotterdam (http://meetmrholland.wordpress.com/2013/09/22/meetings-in-rotterdam-inspecting-the-gateway-to-europe/)
Port of Rotterdam (http://meetmrholland.wordpress.com/2013/09/22/meetings-in-rotterdam-inspecting-the-gateway-to-europe/)

Nah, kalau program2 ini lancar, artinya banyak lapangan kerja yg jaman dulu dipandang kurang duitnya akan jadi favorit. Kalo tol laut jadi implementasinya, bisa kebayang gak sih jalur laut kita jadi rame banget. Pasti banyak banget kapal dan bisnis penunjangnya yg butuh tenaga kerja. Kalo pertanian bisa jadi modern, petani bisa mengeluarkan produk yg bisa langsung layak dijual di supermarket, kebayang gak sih industri pertanian dan pendukungnya bisa jadi ‘heits’ banget?! Kalo berhasil semua dan kita bisa mandiri, kebayang gak sih UI bisa buka program studi doktoral ‘Pengembangan protein kompleks pada tanaman padi’ (ngasal :p)? Kebayang gak sih kalau pelabuhan2 kita jadi jauh lebih terkenal daripada Rotterdam, Singapore, karena ukuran fisik/ukuran traffic yg jauh lebih banyak dan juga rapi, tertib, bersih, gak banyak pungli, aman dari selundup2an?! Ya intinya, karir2 di bidang pertanian, kelautan, pertanahan, perkapalan, dan sejenisnya bisa jadi jurusan favorit karena lahan pekerjaan yg bisa disediakan di bidang ini untuk kalangan profesional makin bertambah banyak. Jadi di masa depan ketika kita sebut petani, bukan orang tua yg bersimbah keringat sambil macul di sawah, tapi ke orang yg punya punya ilmu pertanian dari hulu ke hilir.

Jadi, mungkin jaman anak saya (amin, mudah2an punya rejeki punya anak sendiri :p) ditanya ama om tante sekalian gak cuman pilot/dokter/insinyur/astronot, tapi juga petani/nahkoda kapal/nelayan dsb dsb. Amin. Merdeka! πŸ˜€

Journey, opini

Sulitnya Mencari Tempat Tinggal di Kuala Lumpur

Kayanya lama-lama bisa jadi seri ‘Sulitnya Mencari Tempat Tinggal di…’ πŸ™‚

Ternyata traffic ke postingan ‘Sulitnya Mencari Tempat Tinggal di Balikpapan‘ cukup ramai, walaupun dibuat di tahun 2009, sampai detik ini masih cukup ramai. Mudah-mudahan membantu teman-teman yang akan pindah ke BPN.

Tahun 2014 ini, seri dilanjutkan dengan kota lain, yaitu Kuala Lumpur (KL). Ketika awal tahun ini menyebut kata (KL), reaksi yg saya dapat, 50% mendukung, 50% lainnya mempertanyakan ‘kenapa KL?’. Reaksi yg kedua biasanya karena KL pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan Indonesia, lain halnya dengan Singapore. Yah, namanya juga rejekinya dapet di KL, mau gimana lagi :p

Perburuan apartment di KL sudah dimulai dari Maret 2014, target dihuni adalah Juni 2014. Ternyata, susah ya nyarinya 😦 Variasi cari apartment di KL sangat beragam, tapi yg jadi prioritasnya adalah mau di daerah mana. Semua apartement yg masuk ke Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur sudah cukup tinggi (dibandingkan dengan JKT), apalagi pakai embel nama gedungnya mengandung ‘condominium’ dan dekat LRT station. LRT station harus jadi bahan pertimbangan yg utama, karena taksi di KL jelek, dan bus walaupun kendaraannya bagus, jadwalnya jelek, belom seperti Singapore.

Walaupun public transport di KL cukup bagus dibandingkan JKT, pelayanan taksinya sama dengan taksi jelek di JKT yg warna mobilnya so’2 mau nyamain Blue Bird. Jadi, jangan pernah ngarep dapet taksi bener di KL. Thanks to UberKL, you’re saving my life.

Lalu, issue ras di sini cukup besar, jadi jangan kaget ada aturan ‘menyewakan apartement hanya untuk ras ****’. Silahkan isi ***** dengan nama ras. Setelah beberapa lama tinggal di sini, saya jadi paham kenapa ada statement yg cukup rasis, ya karena ternyata ras juga cukup identik dengan kebiasaan mereka terhadap kebersihan. Sbg orang Indonesia, jangan kawatir, kita termasuk golongan orang yg bersih, disamakan seperti Jepang πŸ™‚

Kesulitan lainnya dari pencarian apartement di sini adalah, foto yg disajikan di web pencarian apartment sangat tidak representatif. Contoh webnya adalah: iproperty, mudah, ibilik, etc. Selain itu, agen property nya gak semuanya ramah/baik seperti yg kita temui di Indonesia. Jadi, memang harus investasi waktu untuk datengin satu-satu calon apartment nya. Mungkin sulit buat saya karena budget sewa apartment yg tersedia gak tinggi 😦 Kalau punya budget di atas MYR5000 sih, cingcai πŸ™‚

Unit apartment di sini belum termasuk listrik/gas/air/internet. Jadi jangan seneng dulu ya kalo dapet harga apartment yg bagus. Tapi overall biaya2 listrik/air/gas/internet lebih murah kok dari JKT, dan gak pake byar pet macam di BPN πŸ˜€ Selain biaya2 rutin, deposit di sini cukup besar, yaitu 2 bulan. Jadi, bulan pertama harus keluar biaya sewa apartment 3 bulan *hoek :(*. Di sini juga sewa minimalnya 1 tahun, kalau kurang dari 1 tahun sudah pindah, maka ada penalti dan uang deposit tidak kembali. Jadi, harus sreg banget nget πŸ˜€

Menurut saya pribadi, daerah kece buat ditinggali adalah daerah macam KLCC, Desa Pandan, dan Damansara. Sayangnya kalau di Damansara, harus banget punya mobil dan budget transport yg cukup besar. Kalau budgetnya unlimited banget, silahkan pilih daerah Embassy Row (approx. MYR 20K per month) πŸ˜€ *mimpi pagi2* :p

opini

Cari Kerja Tuh…

Susah?

Ah lu aja yg pilih2 kerjaan. Kerjaan tuh banyak banget nget.

IMHO, looking for a job that suits you the best is the hardest thing. Memang betul kok, kerjaan di dunia ini banyak banget, tapi kan gak semuanya sesuai harapan kita. Jadi tukang parkir (tanpa maksud mengecilkan arti tukang parkir) juga dianggap pekerjaan, halal pula. Tapi masa iya yang sudah mengenyam pendidikan tinggi, 4-6 tahun di universitas berjibaku dengan tugas dan ujian, lalu end up di ‘blue colar job’? Pastinya bukan itu harapan dari para wisudawan-wisudawati ketika menggunakan toga hitamnya.

Kenapa musti takut sih Ran soal kerjaan? Kalo kita PD akan kompetensi kita, pasti ada yg hire kok.

Itu kata-kata supervisor pertama saya ketika perusahaan tempat kami bekerja santer issue lay off. Kata-kata ini yang saya pegang terus. Kompetensi adalah elemen paling penting dalam bekerja, mau sebagai karyawan/pegawai negri/wirausaha, itu modalnya.

Kalo kita bandingkan market tenaga kerja antara sekarang dan 10 tahun yg lalu, pastinya beda banget. Sepuluh tahun yg lalu, mungkin teman-teman yg kuliah di luar negeri cuma segelintir yg balik ke Indonesia, tapi sekarang tidak sedikit yg kembali ke Indonesia, atau at least Asia Tenggara. Kenapa gitu? Masih inget kan sub-prime mortgage yg mengguncang Eropa dan Amerika Serikat? Sekarang sih udah mendingan, tapi masih ada beberapa negara di Eropa yg belum pulih sepenuhnya, jadi itu mempengaruhi supply lahan pekerjaan. Selain itu, perusahaan MNC yg notabenenya banyak berasal dari Eropa dan AS, sudah condong mencari tenaga kerja yg lebih murah. Misalnya, Perancis yg berbatasan dengan Belanda, sudah mulai mencari tenaga kerja dari Belanda yang lebih murah harganya dari orang Perancis sendiri.

Nah, artinya apa? Lulusan lokal di Indonesia saingannya makin banyak, selain dengan rekan sejawatnya, tapi juga dengan orang-orang lulusan negara maju, yg somehow masih dilihat oleh banyak pihak lebih unggul daripada lulusan lokal. Kenapa? Kemungkinan besar karena exposure mereka ke Bahasa Inggris memang jauh lebih banyak, dan juga pergaulan dengan beda kultur. Sekarang bayangin aja, misalkan saya punya toko jamu tradisional di Nigeria, ya pastinya saya lebih milih orang Indonesia yg bisa ngomong Nigeria karena saya gak usah pusing mikir pas ngomong ama anak buah. Got the point?

Ya udah, kita bikin usaha sendiri aja. Gak usah pake tergantung ama orang lain.

Saya selalu salut dengan orang-orang berani seperti ini, dan saya ngaku kalo bikin usaha itu susah. Saya lebih milih jadi pegawai, dapat gaji teratur + benefit, gak mikirin besok pegawai2 saya makan apa. Memiliki sebuah usaha diperlukan sustainability yg besar, karena gak cuman ngurusin sejumlah pegawai, tapi juga keluarganya pegawai itu. Jadi, kalo anda-anda bisa, kenapa gak? Saya dukung angka wirausahawan supaya Indonesia bisa mencapai angka minimal 2% sebagai tolak ukur negara yg bisa sustain.

Balik lagi ke mencari pekerjaan yg kita inginkan itu sulit. Bukan karena kompetensi saja, tapi banyak faktor, dari masalah benefit, gaji, lingkungan kerja, sampai lokasi pekerjaan itu. Kompetensi pas, bos enak, gaji oke, lokasi gak asik abis. Setelah dihitung-hitung, ternyata gajinya gak nutup uang transport, akhirnya gak jadi diambil kerjaan itu. Ya..macam-macam lah.

Buat saya, bisa dapet kerjaan enak itu 99% dari usaha keras dan 1% keberuntungan. Bisa aja kerjaan oke, lokasi oke, gaji oke, lingkungan oke, eh tiba2 pas mau interview sakit perut akut, gak dapet deh. Jadi biar 1% nya lancar, minta banyak-banyak didoain ama orang tua, bayar zakat, solat 5 waktu, pokoke yg baik2 deh. Tapi inget, 99% nya itu berasal dari diri kita sendiri, kompetensi.