Journey, Love...Life...

Replay

When I saw this blog’s timeline, 2013 is a missing year. I wasn’t missing, just buried in jobs, such a cliché reason 🙂

But, before trying to replay 2013, I’d like to conclude something: I’m in a new stage. It’s still a brand new stage, still feel quite strange and scared, but I feel more optimistic. Isn’t it great?! 🙂

I started 2013 with another broken heart..haha..not another boy things, but another ugly truth about their egos. But, that was just a small start. I got another job desc. I could see nothing good from that job itself, but it allowed me to get many other perceptions about both company and colleagues, which actually gave me vantage points as a part of management. On the other hand, my salary was like a labour..ahahha…but payed the bills.

The new job offered me nothing on my personal/social life. I kept working days and nights, especially my boss’ calls also in days and nights! In addition of the crazy work loads, both of my houses developments were done. At that point, I realized that managing a house without a partner was exhausting. Just to emphasize, I managed 2 houses. What a strong woman I am! :p

Approaching end of 2013, I got hit by an acute gastritis. That was another point when I realized I’d been abusing both my physical and mental. On October 2013, somehow I managed to open Humans of New York blog, and found this. I got THE job in THE company that nobody would never gave it up in order to have security. Reality bit, I didn’t feel secured.

Taken from one of Humans of New York articles
Taken from one of Humans of New York articles

Those were the major turmoil how I got here now.

Journey

Sulitnya Mencari Tempat Tinggal di Kuala Lumpur – Part 2

Saya kira ketika menuliskan pengalaman cari tempat tinggal di sini semua yg pait2 udah dilewatin. Ternyata, belum dimulai 😦

Di tengah tahun 2014, pertama kali pindah ke KL, saya cukup beruntung menemukan kamar kosong di salah satu unit condominium daerah KLCC dengan harga yg sesuai dengan budget. Saya kira keberuntungan itu merupakan penutup perjalanan cari tempat tinggal di sini, ternyata tidak sodara2.

Perjalanan dimulai ketika saya harus pindah ke tempat baru di bulan Maret 2015, sehingga saya sudah sibuk mencari tempat tinggal dari December 2014. Sebagai planner, saya sudah mulai cek-cek tempat di berbagai situs, mulai dari mudah.com.my, ibilik.com.my, iproperty, propwall, pasang iklan ‘Cari Kamar’ di milis IndoKL, you name it. Puluhan sms saya kirimkan ke advertisernya, semua isinya sama:

Hi, is your place still available? I’m female, single, Indonesian. Plan to move in on March 2015.

Gak ada yg bales 😦

Akhirnya salah satu sms dibales, dan ditelp. Dari situs ibilik untuk salah satu condominium area KLCC. Saya sms karena harganya agak miring, walaupun di condo yg sudah agak tua. Saya datangi, ketemu orangnya, deal, transfer uang di akhir December 2014. Hati senang, akhirnya dapet tempat yg masih area KLCC.

1 Maret 2015, saya sudah siap2 pindahan, ternyata:

Rani, you can not move. The old tenant is still there. So if you don’t any place, you can stay with me for this night.

Btw, ‘owner’nya ini nenek2 ya…. Dari December 2014 – Feb 2015, saya sudah melakukan transaksi yg meng-cover 2.5 bulan deposit dan 2 bulan sewa, it wasn’t a small amount of money, for me at least. Temen2 yg bener, juga udah suspicious ama permintaan uang sewa 3 bulan sebelum saya resmi menempati tempat baru. Ada bagian yg di-bold, karena saya juga pernah berinteraksi ama ‘temen2 yg ternyata gak bener’. Saya tetap PD melakukan transaksi itu karena ‘hey, ini urusan ama nenek2, masa ya tukang tipu‘. Yeah..it doesn’t sound like me eh? Mungkin ini efek ‘pernah-interaksi-ama-temen2-yg-gak-bener’.

Si nenek2 ini punya beribu alasan untuk minta saya transfer uang terus. Akhirnya ketika statement kalo saya gak bisa nempatin, saya langsung lapor polisi. Saya skip bagian dramanya bikin polis report di sini. Intinya saya bikin report sebagai jaminan saya akan mendapatkan kembali uang saya di keesokan harinya. Alhamdulillah uang saya keesokan harinya kembali 100% dengan 6 kali transaksi. Gak tau deh dia nipu siapa buat balikin uang saya.

Uang memang kembali, tapi saya gak punya tempat tinggal 😦 Alhamdulillah, sepertinya doa ibu saya didengar oleh Tuhan 🙂 Saya punya tempat tumpangan dulu, dan saya juga dipertemukan lagi dengan 2 teman lama yg juga lagi cari tempat tinggal baru, dan sekarang 2 teman lama ini menjadi housemate saya 🙂

Morale of story nya adalah:

  1. Di KL kalo cari tempat tinggal jangan jauh2 hari. Orang2 yg pernah saya sms dari December baru membalas sms saya dari bulan Feb’15 awal.
  2. Jangan gampang percaya ama generalisasi etnis/suku. Kalo lagi apes ketemu tukang tipu, ya apes aja.
  3. Harus legowo kalo budget terbatas, jgn so’2 cari harga miring
  4. Keberuntungan itu sifatnya terbatas, gak selamanya beruntung (gak nyambung ya ama 3 point sebelumnya :p)
Journey, opini

Sulitnya Mencari Tempat Tinggal di Kuala Lumpur

Kayanya lama-lama bisa jadi seri ‘Sulitnya Mencari Tempat Tinggal di…’ 🙂

Ternyata traffic ke postingan ‘Sulitnya Mencari Tempat Tinggal di Balikpapan‘ cukup ramai, walaupun dibuat di tahun 2009, sampai detik ini masih cukup ramai. Mudah-mudahan membantu teman-teman yang akan pindah ke BPN.

Tahun 2014 ini, seri dilanjutkan dengan kota lain, yaitu Kuala Lumpur (KL). Ketika awal tahun ini menyebut kata (KL), reaksi yg saya dapat, 50% mendukung, 50% lainnya mempertanyakan ‘kenapa KL?’. Reaksi yg kedua biasanya karena KL pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan Indonesia, lain halnya dengan Singapore. Yah, namanya juga rejekinya dapet di KL, mau gimana lagi :p

Perburuan apartment di KL sudah dimulai dari Maret 2014, target dihuni adalah Juni 2014. Ternyata, susah ya nyarinya 😦 Variasi cari apartment di KL sangat beragam, tapi yg jadi prioritasnya adalah mau di daerah mana. Semua apartement yg masuk ke Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur sudah cukup tinggi (dibandingkan dengan JKT), apalagi pakai embel nama gedungnya mengandung ‘condominium’ dan dekat LRT station. LRT station harus jadi bahan pertimbangan yg utama, karena taksi di KL jelek, dan bus walaupun kendaraannya bagus, jadwalnya jelek, belom seperti Singapore.

Walaupun public transport di KL cukup bagus dibandingkan JKT, pelayanan taksinya sama dengan taksi jelek di JKT yg warna mobilnya so’2 mau nyamain Blue Bird. Jadi, jangan pernah ngarep dapet taksi bener di KL. Thanks to UberKL, you’re saving my life.

Lalu, issue ras di sini cukup besar, jadi jangan kaget ada aturan ‘menyewakan apartement hanya untuk ras ****’. Silahkan isi ***** dengan nama ras. Setelah beberapa lama tinggal di sini, saya jadi paham kenapa ada statement yg cukup rasis, ya karena ternyata ras juga cukup identik dengan kebiasaan mereka terhadap kebersihan. Sbg orang Indonesia, jangan kawatir, kita termasuk golongan orang yg bersih, disamakan seperti Jepang 🙂

Kesulitan lainnya dari pencarian apartement di sini adalah, foto yg disajikan di web pencarian apartment sangat tidak representatif. Contoh webnya adalah: iproperty, mudah, ibilik, etc. Selain itu, agen property nya gak semuanya ramah/baik seperti yg kita temui di Indonesia. Jadi, memang harus investasi waktu untuk datengin satu-satu calon apartment nya. Mungkin sulit buat saya karena budget sewa apartment yg tersedia gak tinggi 😦 Kalau punya budget di atas MYR5000 sih, cingcai 🙂

Unit apartment di sini belum termasuk listrik/gas/air/internet. Jadi jangan seneng dulu ya kalo dapet harga apartment yg bagus. Tapi overall biaya2 listrik/air/gas/internet lebih murah kok dari JKT, dan gak pake byar pet macam di BPN 😀 Selain biaya2 rutin, deposit di sini cukup besar, yaitu 2 bulan. Jadi, bulan pertama harus keluar biaya sewa apartment 3 bulan *hoek :(*. Di sini juga sewa minimalnya 1 tahun, kalau kurang dari 1 tahun sudah pindah, maka ada penalti dan uang deposit tidak kembali. Jadi, harus sreg banget nget 😀

Menurut saya pribadi, daerah kece buat ditinggali adalah daerah macam KLCC, Desa Pandan, dan Damansara. Sayangnya kalau di Damansara, harus banget punya mobil dan budget transport yg cukup besar. Kalau budgetnya unlimited banget, silahkan pilih daerah Embassy Row (approx. MYR 20K per month) 😀 *mimpi pagi2* :p

Journey, reviews

Japan Voyage Part Un

Ada part 1 nya bukan karena postingan ini akan dibagi menjadi beberapa postingan, tapi hanya karena harapan penulis akan kembali mengunjungi Negara Sakura nan indah itu 🙂

Berikut ini hal2 mendasar yg diperlukan untuk pergi ke Jepang:

1. Paspor yg validnya lebih dari 6 bulan terhitung dari hari keberangkatan. Misal, berangkat Januari 2014, maka paspor setidaknya masih valid sampai Juli 2014.

2. Tiket PP. Ini berburunya at least 4 bulan sebelum keberangkatan karena setelah itu harga tiket akan mahal.

3. Visa Jepang. Kalo passport nya udah ada chipnya, cuman perlu daftarin paspornya ke Kedubes/Konjen Jepang terdekat.

Poin di atas kudu wajib punya jauh2 hari. Abis itu, baru deh ke poin2 selanjutnya ini.

4. Cari tau pas pergi ke sana lagi musim apa. Jangan langsung percaya kata2 ‘warm’ dari web2 yg reviewernya bule. Karena buat gw, ‘warm’nya bule itu masih ‘cold’nya gw.

5. Detailed plan di sana mau kemana aja, ngapain aja, tidur di mana, makan apa, pokoke seperintilan2nya.

Itu sih poin2 pentingnya. Nah jom kita bahas satu2 ya.

Visa Jepang

Gampang sih kalo ini, seminggu jadi. Biayanya juga cuman 350KIDR ajah. Dulu ngurusnya dibantuin ama travel agent yg ada kerja sama dg kantor. Syaratnya gampang2 juga kok, cekidot di web Kedubes Jepang aja ya.

Musim

Jepang itu Negara 4 musim, yg perputaran musimnya sama lah kaya negara2 Eropa. Waktu pergi dulu, pas lagi Sakura blooming. Perlu diingat ya Sakura bloom di Jepang itu beda2 waktunya, tergantung kotanya. Makin dingin kota itu, makin lama Sakura bloom nya. Kalo diliat 1 bunga sakura aja, biasa aja sih, tapi indahnya adalah kenyataan bunga itu cuma mampu hidup selama 2 minggu, lalu gugur sampai musim semi selanjutnya. Ngerti sih kenapa temen2nya Oshin ini happy banget pas Sakura mulai muncul, artinya udara mulai hangat. Hangatnya musim semi, buat gw masih dingiiin banget, jadi kalo ke sana pas spring/fall, bawa jaket windstopper yg bagus ya.. Anginnya bener2 bikin gigi gemelutuk. Selain itu, kalo badan gak langsung adapt ama dingin + angin kenceng, hasilnya adalah mimisan yg darahnya pake beku di dalem idung.

Anti Cold
Anti Cold

What to Do

Nah, kalo mau ngapain aja di Jepang, silahkan browsing2 aja di internet banyaak banget. Dan pasti bingung, karena saking banyaknya tujuan wisata di Jepang. Inget juga ya kemampuan diri, gak usah terlalu capek. Kalo kecapean trus sakit selama di sana, ato pulang2 sakit, menurut gw gak asik sih. Dan kebiasaannya org2 indo (yg gw tau2 aja sih), sukanya ke banyak tempat, yg penting ada fotonya, posting, trus ngider2 lagi, trus belanja. Gw, honestly, gak suka. Gw suka diem di tempat itu, nikmatin pemandangannya. Kalo ada yg mau bilang karena factor U, terserah ya…tapi gw gak demen kalo buru2, cuma foto2 doang, trus belanja. Hadeehh….

Bentuk bunga Sakura
Bentuk bunga Sakura
Sakura di Kudanshita
Sakura di Kudanshita

 

Waktu ke Jepang, gw dateng ke kota2 mainstream, yaitu Tokyo, Kyoto, dan Osaka. Kalo ditanya paling bagus di mana, semuanya bagus. Tapi kalo mau ngulang lagi, gw akan milih lama di Kyoto. Kyoto ini kota yg nyeni banget, dan crowdnya beda ama Tokyo dan Osaka yg notabenenya kota metropolitan banget. Dari ke-3 kota itu, Kyoto merupakan kota yg paling mahal untuk penginapan dan makan. Jadi, kalo di Tokyo bisa dapet hostel 700KIDR per malam per kamar, di Kyoto siap2 1MIDR at least. Makanya, book nya harus jauh-jauh hari.

Massive railway. Itu kesan paling mendalam buat gw selama di Tokyo, karena sewaktu di sana, kereta api adalah transportasi utama kami. Jangan samain baca map kereta di Tokyo kaya di Singapore, apalagi di KL sini. Kompleksitasnya puluhan kali lipat karena gak semua stasiun ada huruf latinnya. Trus caranya gimana, ya tanya aja. Karakter favorit gw dari org2 Jepang ini adalah, mereka gak liat2 muka gw yg super duper jauh dari mereka ini, kaya cuek aja gitu. Tapi kalo pas ditanya, wuiiihh…baik dan ramahnya ngalahin orang Jogja. Suer! Tapi ya itu, nanyanya jgn bener2 clueless, karena mereka gak bisa bahasa Inggris sama sekali, bahkan baca tulisan latin biasa juga gak bisa.

Selain massive railway di Tokyo, toilet super canggihnya Jepang. Bisa ngomong, tempat duduknya anget, dan yg paling penting, ada jet showernya sodara2! 😀 Toiletnya aja bersih, jalanannya juga bersih banget, kaya bisa buat bobo’ gitu aspalnya *lebay* :p

Jalanan di Belakang Kompleks Imperial Palace
Jalanan di Belakang Kompleks Imperial Palace
Toilet Canggih di Haneda
Toilet Canggih di Haneda

Di Kyoto, kami menginap di Chita Inn. Point nya mencapai 8.8 di Booking .com. Wah, hebat banget nih. Pas nyampe sana, emang lokasinya deket dari stasiun Kyoto. Kalo pake standard Indo, gak deket2 amat, tapi masih nyaman untuk jalan kaki dari Stasiun Kyoto. Lalu, Inn lady nya, kalo gak salah namanya Kaori, ramah banget, daaann…English nya bagus banget. Kamarnya juga lucu, kami bobo’ pake gaya Oshin, pake tatami dan selimutnya itu, dan hangat banget, walopun gak pake heater.

Kamar ber-tatami di Chita Inn
Kamar ber-tatami di Chita Inn

I totally fell in love to Kyoto. Di sana kita juga gak sengaja ketemu tempat ramen di deket kuil Ginkakuji. Ampe sekarang gw sih gak tau namanya apa, abis pake Kanji -.- Kami tertarik makan di sini karena ada stiker Trip Advisornya. Ini satu2nya ramen yg kami temui yg bisa kami makan, karena kaldunya pake kaldu ayam, bukan babi 🙂 Next trip to Japan, gw pengen banget ke Hiroshima dan Nagoya, dan tentunya akan stay di Kyoto sebagai basecamp 🙂

Osaka. Buat gw kota ini emang kota tujuan belanja, terutama di Shinsaibashi. Gak usah ke Tokyo atau Kyoto buat belanja, mahal banget. Jadi, Shinsaibashi ini kompleks pertokoan yg panjaaaang banget, dari level Daimaru yg barangnya mahal2 super gila, ampe level kaki lima yg harganya bole lah… 😀 Dan di Osaka ada Osaka Amazing Pass, pass seharian atau 2 harian yg mengandung banyak diskon, pakailah dengan bijaksana :p Bisa dibeli di stasiun Umeda. Contoh diskonnya adalah Okonomiyaki yg rasanya sangat authentic inih…nyam 😀

Oh iya, di Osaka ada 2 stasiun, Shin Osaka dan Umeda. Kalau ke Osaka pake Shinkansen, turunnya di Shin Osaka, sedangkan Umeda adalah stasiun yg line nya lebih rame, terutama kalo mau ke bandara (line JR, bandara Osaka KIX).

Osaka Okonomiyaki
Osaka Okonomiyaki

Selain bahasa, salah satu kesulitan di Jepang adalah kita gak bisa asal beli SIM Card local untuk keperluan komunikasi. Walopun di setiap stasiun JR ada free wifi nya, gak semua tempat wifi gratisan bisa langsung kita pake. Kenapa? Contohnya free wifi nya sbux, untuk bisa akses ke free wifi di sbux seantero Jepang, kita harus udah registrasi dulu. Lha, gimana mau registrasi kalo gak dapet inet?! Betul? Macam ayam ama telur duluan siapa kan?! 😦 Jadi, kalo mau connect free wifi nya sbux, ambil brosur wifi connection mereka, masuk ke stasiun JR terdekat, register wifi, lalu balik lagi ke sbux, lanjutkan nongkrong. Hal yg sama juga terjadi untuk free wifi lainnya, contohnya wifi Kyoto. Kalo gak salah, Kyoto karena kota pariwisata, menyediakan free wifi di seantero kota, tapi ya itu…harus registrasi dulu.

But afterall, I’m madly in love with Japan 🙂 Ja mata aimashoo Nihon-go 🙂

Rangkuman

  • Tiket PP rute Balikpapan-Kuala Lumpur-Tokyo-Osaka-Kuala Lumpur-Balikpapan = 6.5M IDR
  • Penginapan Tokyo per pax per night avg 350 KIDR (Sotetsa Fresa Inn Minato), Kyoto per pax per night 400K IDR (Chita Inn).
  • Makan per pax avg. 750 JPY (bukan level Sukiya / Yoshinoya). Jajan2 pinggir jalan (kios) avg. 200-500 JPY.
  • 1 JPY = 123 IDR (per end of March 2014)
  • Harga yukata paling murah di Osaka 3000 JPY

 

Journey, Love...Life...

à vingth sept

Horee…It’s April 2012! Already?!
This blog has probably changed from daily into anually updates. What ashame! :p
And afterall, it’s also my first draft in 2012. Mungkin ini efek udah bosen bikin project report / requirement analysis report juga.

I’m 27. Ini pertama kalinya rela nyebutin umur beneran :p It’s not about getting older, but how I feel I’ve made tiny achievements during these 27 years. In my current age, most of my friends have finally settled down and have kids. Et moi? Ce n’est pas clair. Il est le longtemps rêve.

But somehow the thought of being settled down tickles when i have a visit to my dearest senior/friend Nongky home. What a lovely small family *terharu*. Tau kan Nongs kenapa gw suka dateng ke rumahlu walopun sambil minta makan gratis xD

Dans le cours, mon proffesseur m’a demandé pour explicer mon future mariage. That was a ‘halah’ moment. It was one of the things I called absurd. Boong gak sih kalo gw sambil bilang gak tau ama siapa punya acara itu. And my brain was fulfilled with his rarely smiling face. Many people said that the best person you want to be with is your bestfriend. Well, kenyataannya my long time bestfriend is expecting his baby. Deng dong! Coret! But yes, if I could turn back time, I probably would have you.

At 27, my dearest sister reminds me to achieve what i’ve pursued since my graduation day. The fact is I can not go into that track for a while, but I’m working on that. Two big goals yet in opposite direction are awaiting for me, so I can’t afford being patient now.

maglev train
So now, I’m 27, in a fast track, impatient.

*picture take from http://www.tunaruna.com/