balikpapan, Journey, Works

After MCP Period

highriseBuilding

It’s been 2 years after my graduation day from CSUI, but I’ve already in my 2nd chapter of work. Interview request phone call memories are ringing in my head. The most remembered phone call was come from Ibu SM who asked me to have interview in Mid Plaza in the end of July, days after my graduation trial.

When will you graduate?
I’ve had my final trial 2 days ago 🙂
Congratz!!

Those sentences were the beginning part of my interview which sent me to be one of BHPB-MCP IT team members.

I just spent 1,5 years in that team. I left with smiley tears. Nobody insisted me to leave, but I’ve made decision to have a more stable life. I did love the roller coaster environment. Many people, events, joys, approval, disapproval, and projects I’ve been involved. The roller coaster thing made me open eyes widely to see the world. I thought I’ve in the right place to reach the sky. I love those moments. Can not say any words.

After all, I’m in my new team now. Nice people, no emotional events, just work. Friends with same ages, predictable activities from Monday to Sunday. I could never think about leaving the previous company, but I left. I could say I will be leaving current place, for now. I haven’t put any punch pin in the map of world, but soon 🙂 Let me ‘sleep’ for a while, enjoy the breeze of the city, after no time to enjoy it in the first 1,5 years.

Journey, Love...Life...

My 16-Years-Old-Girl Spirit

Midplaza Intercontinental, elevator.
“How old are you?”
“Is it necessary to know my exact age?”
“Hahaha..no..I’m just curious about it since I see you have a 16-years-old-girl spirit.”
“I’ll take it as a compliment :)”

And now I just have a 83-years-old-granny spirit. Does it happen to everyone? When the 16-years-old-girl spirit has been taken away by heartache, disappointment, and betrayal.

I need to play in my sandbox mind, have fun, and I promise I’ll have the 16-years-old-girl spirit 🙂

opini, reviews

Soal Perduitan

Belakangan ini org suka nanya ke gw soal reksadana (RD). Bingung juga, kayanya gara2 ngeliat tiap bulan gw dikirimin rekening koran dari CommBank.
Inti dari pertanyaan org yg nanya2 adalah mereka mengharap mendapatkan penghasilan dari membeli reksadana ini. Pastinya yg nanya ke gw adalah org yg lebih amatir dari gw 😀
Kalo menurut gw, investasi reksadana adalah investasi yang gak bisa diharapkan hasilnya dalam waktu pendek. Gw sendiri pun nabung dalam bentuk reksdana karena gw gak mau duit gw diem gitu aja di tabungan kemakan ama inflasi. Sebenernya lebih OK kalo nabung dalam bentuk emas, tapi gw males ngurusin safe deposit box nya. Apalagi untuk org seperti gw yg notabenenya tidak memiliki tempat tinggal tetap.

Gw pribadi memiliki beberapa prinsip:
1. Pastikan uang yang dipake untuk RD itu adalah uang receh, bener2 uang sisa yang tidak digunakan untuk alokasi pengeluaran apa pun. Uang emergency pun tidak akan saya sentuh.
2. Tidak mencairkan RD tersebut walaupun harga sedang tinggi2nya kalau uangnya tidak akan dipakai untuk keperluan yang benar2 perlu. Contoh: mau liburan ke Lombok, cairin RD ah. It’s a big No for me.
Kalau mau liburan ya ngirit selama beberapa bulan untuk ditabung buat liburan. Tapi ya jangan ngoyo. Misalkan gaji 2 juta tapi ngarep liburan ke Eropa 6 bulan lagi. Itu sih dodol (menurut gw sih) 😀
3. Pastikan untuk selalu buka mata dan buka telinga mengenai issue2 ekonomi baik dalam dan luar negeri, terutama yang berkaitan dengan saham perusahaan yang termasuk dalam RD gw. Contoh kasus tahun lalu terjadi resesi global, yang sebenernya udah mulai ada ciri2nya. Kalo uang dari reksadana tersebut akan dipakai untuk tahun ini, mendingan cabut dulu investasinya. Tapi tahun lalu gw gak cabut dari RD karena tahun ini dan tahun depan gw gak punya kepentingan yang mengharuskan gw harus caiirin RD gw.

Gw pribadi gak percaya ama Unit Link (UL) dimana mengandung investasi dan asuransi. Pertama, gw masih muda, single, dan perusahaan tempat gw kerja meng-cover asuransi kesehatan dan kecelakaan buat gw. Kedua, gak ada yg namanya uang dateng tanpa harus ada usaha apa2 selain bayar premi bulanan/tahunan gitu aja. Pasti ada hidden cost nya. Ketiga, kalo kita punya RD dengan cara manual seperti yang gw terapkan, gw akan bener2 meresapi belajar me-maintain uang gw sendiri. Apalagi kalo uang itu didapat dari kerja keras banting tulang jadi kuli di perusahaan yg kantornya kaya kantor kelurahan (lho…kok jadi curcol) 😀

Banyak orang bilang gw tidak menjelaskan. Lho..gw gak mau mendikte org untuk mengolah keuangan mereka karena mereka punya prioritas, visi, dan pengeluaran mereka sendiri 😀 Terutama mereka yang udah berkeluarga. Yang jelas, gw bukan org yg doyan kartu kredit berlimit lebih dari 80% gaji gw. Kemudian, gw bukan tipe yang menggantungkan simpanan/jaminan buat hidup gw di 1 tali aja. Dan gw juga gak terlalu suka ngikutin metode org dalam hal finansial, gw harus research dan coba sendiri supaya dapetin metode yg paling OK buat gw.

Minggu lalu di Hallmark ada acara Oprah yang edisinya lagi ngomongin pendidikan keuangan dari ortu ke anak. Ada ibu yang bingung karena anaknya pengen ke Puerto Rico ikutan karya wisata ama sekolahnya, tapi gak punya uang. Ketika narasumber si Oprah nanya berapa banyak cicilan sisa milik si Ibu itu, jawaban si Narasumber cuma gini: “No. Tell your son that you don’t have any money to send him to Puerto Rico.” Nah, maxud lain dari si narasumber adalah anak harus tau keadaan financial si ortu. Jangan ampe si ortu harus melakukan perbuatan yang tidak masuk akal untuk kemauan anak yg sifatnya short term. Dan sayangnya gw masih sering denger kasus ortu yang lebih mentingin keperluan tertiernya tapi ngelupain primernya 😦

Thanks to my mom who has taught me a lot about money and how to manage it 🙂

balikpapan, Works

Labor

Staff
it is said in my work agreement. Although I’m not doing manual-hard job assignments, but I’m still a labor by management view. Unfortunately, my organizational unit makes me can’t join in labor society.

Another management’s view said to lessen the amount of employee, outsource will be more effective. But it leads to another issue, there is limited qualified man power supply in Indonesia. In short term, those man power supplies are fucking asshole companies. Their fee could reach 40% of total employee cost from its client. And what they do? Nothing.

Anyway, I don’t disagree to outsource, but those rats who named themselves as manpower supply companies, should be audited and having fit and proper test. And then, is there any regulation to audit them? Who maintain or at least consider about this? Government?! Parliament?! I just could say, “Ha ha ha”. Welcome to Indonesia 🙂